BukaBeritanya ← Kembali
Iklan
Iklan Atas Artikel
Opini

KDMP: Proyek Raksasa Desa yang Menjanjikan, Tapi Menyisakan Banyak Tanya Oleh: Redaksi

18 May 2026
4 min read
KDMP: Proyek Raksasa Desa yang Menjanjikan, Tapi Menyisakan Banyak Tanya  Oleh: Redaksi
Iklan
Iklan Setelah Gambar atau Video Artikel
Pemerintah kembali menghadirkan proyek besar dengan narasi pemerataan ekonomi desa. Kali ini namanya Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Program ini diposisikan sebagai instrumen baru kebangkitan ekonomi rakyat dari desa, dengan target puluhan ribu koperasi tersebar di seluruh Indonesia. Di atas kertas, gagasannya terdengar menjanjikan. Desa tidak lagi sekadar menjadi pasar bagi produk kota, tetapi menjadi pusat produksi, distribusi, bahkan layanan ekonomi masyarakat. Pemerintah ingin koperasi hadir bukan hanya sebagai tempat simpan pinjam, melainkan menjadi pusat perdagangan hasil pertanian, distribusi sembako, gudang logistik, hingga layanan kesehatan dasar. Namun seperti banyak proyek besar lain di negeri ini, publik mulai bertanya: apakah KDMP benar-benar lahir dari kebutuhan masyarakat desa, atau sekadar proyek nasional yang dipaksakan turun ke bawah? Ambisi Besar dari Pusat Pemerintah tampak serius mendorong KDMP sebagai simbol penguatan ekonomi desa. Dalam berbagai kesempatan, pejabat pusat menyebut koperasi sebagai jalan untuk memotong rantai distribusi yang selama ini merugikan petani dan pelaku usaha kecil. Narasi yang dibangun cukup kuat. Desa harus mandiri. Petani tidak boleh terus bergantung pada tengkulak. Produk desa harus punya nilai tambah. Koperasi dianggap solusi untuk menyatukan seluruh rantai ekonomi itu. Secara ide, tidak ada yang salah. Masalahnya, desa bukan ruang kosong yang bisa diisi begitu saja dengan konsep besar dari pusat. Setiap desa punya persoalan berbeda, kapasitas berbeda, bahkan kultur sosial yang berbeda. Di sinilah tantangan KDMP mulai terlihat. Antara Kebutuhan dan Instruksi Di sejumlah daerah, pembentukan KDMP mulai berjalan cepat. Bahkan terkesan terlalu cepat. Ada desa yang masih bingung soal model bisnis koperasi, tetapi sudah diminta menyiapkan lahan. Ada yang belum memahami skema pengelolaan, tetapi sudah harus membentuk kepengurusan. Kondisi ini memunculkan kesan bahwa orientasi utama program lebih banyak mengejar target angka dibanding kesiapan masyarakat. Padahal sejarah koperasi di Indonesia menunjukkan satu hal penting: koperasi tidak bisa hidup hanya karena instruksi pemerintah. Banyak koperasi mati suri karena dibentuk secara administratif, bukan tumbuh dari kebutuhan riil warga. Gedung ada, papan nama ada, tetapi aktivitas ekonomi tidak berjalan. KDMP terancam mengulang pola lama jika pendekatan yang digunakan hanya berfokus pada percepatan pembangunan fisik. Desa Jangan Hanya Jadi Objek Proyek Hal lain yang mulai menjadi sorotan adalah potensi beban baru bagi pemerintah desa. Ketika proyek nasional masuk ke desa, sering kali desa berada di posisi serba sulit. Menolak dianggap tidak mendukung program pemerintah. Menerima pun kadang belum tentu siap secara anggaran, sumber daya manusia, maupun tata kelola. Belum lagi jika proyek ini nantinya bersinggungan dengan kepentingan pengadaan, distribusi barang, hingga penunjukan pihak tertentu dalam pengelolaan usaha koperasi. Publik tentu berharap KDMP tidak berubah menjadi proyek elite baru di desa. Karena jika koperasi hanya dikuasai segelintir kelompok, maka semangat utamanya justru hilang. Koperasi seharusnya menjadi ruang ekonomi bersama, bukan sekadar etalase program pemerintah. Transparansi Akan Menjadi Kunci Satu hal yang paling penting dalam proyek sebesar KDMP adalah transparansi. Masyarakat desa berhak tahu: dari mana sumber pembiayaan, bagaimana model bisnis koperasi, siapa pengelolanya, siapa pemasok barang, hingga bagaimana keuntungan dibagikan. Tanpa keterbukaan, proyek sebesar apa pun akan mudah memunculkan kecurigaan publik. Apalagi masyarakat desa hari ini jauh lebih kritis dibanding sebelumnya. Mereka tidak lagi hanya melihat bangunan berdiri, tetapi juga mempertanyakan manfaat nyata yang diterima warga. Jangan Sampai Menjadi Monumen Baru Indonesia punya banyak pengalaman tentang proyek besar yang akhirnya hanya menjadi bangunan kosong. Pasar desa sepi, BUMDes tidak aktif, gedung usaha mangkrak, hingga koperasi yang tinggal papan nama. KDMP jangan sampai masuk daftar panjang itu. Karena inti dari koperasi bukan pada gedung atau seremoni peresmian, melainkan pada aktivitas ekonomi yang hidup setiap hari. Ada transaksi. Ada keuntungan bagi anggota. Ada manfaat nyata bagi masyarakat. Jika tidak, maka proyek ini hanya akan menjadi monumen baru yang dibangun dengan optimisme besar, tetapi kehilangan arah setelah euforia selesai. Penutup KDMP bisa menjadi langkah penting memperkuat ekonomi desa. Tetapi proyek sebesar ini membutuhkan lebih dari sekadar target dan slogan. Yang dibutuhkan adalah: kesiapan masyarakat, pengelolaan profesional, transparansi, dan keberanian untuk melibatkan warga sebagai pemilik utama koperasi. Karena pada akhirnya, desa bukan tempat menjalankan proyek semata. Desa adalah ruang hidup masyarakat yang membutuhkan solusi nyata, bukan sekadar program yang terlihat besar di atas kertas.
Iklan
Iklan Setelah Isi Artikel
Topik Terkait
#Opini #MahmudMahmudin #BukaBeritanya #BeritaIndonesia #Desa #Koperasi #Proyek #Kdmp
Mahmud Mahmudin
Ditulis Oleh

Mahmud Mahmudin

Jurnalis Warga
✍ Artikel Resmi
📰 Citizen Journalism

Jurnalis Senior

Lihat Semua Tulisan →
Iklan
Slot Iklan Sebelum Komentar
Sponsor Lokal / Banner 728x90 / 300x250
Upload gambar ke /uploads/iklan/ lalu isi nama file di fungsi renderAdSlotBukaberitanya()
Diskusi

Komentar Pembaca

Newsletter

Jangan Ketinggalan Berita Terbaru

Dapatkan update berita, perspektif, market dan cerita warga langsung ke email Anda.

Related News

Berita Terkait

Iklan
Iklan Mobile Bawah